Sang Kala
...senja
sudah setengah ke peraduan, terlihat mata bidadari yang redup dalam
kantuk. Menari Sang Jalang memeluk takdir, nyaris tak akan terlepas,
meskipun Tuhan marah pada sang kupu-kupu. Hari ini aku akan mengenal
Tuhan dalam bimbangku..!
...seribu
luka yang nyeri di dalam hatimu, meneteskan harapan tersaput usapan
angin senja. Genit tersenyum Tuhan di perapian malam, di antara desahan
yang menyayat. Esok aku akan menangis dalam surat yang tertulis rapi
dalam ikatan gaun para pencari Tuhan yang hilang..!
...terakhir
hanya kata yang nanar, kau ucapkan dengan amarah. Kau balikkan badan
dan tersenyum getir sambil memegang kepalan tangan sendiri. Malam ini
kunanti jawabmu di lubuk malam yang semakin ragu dengan lolongan di
ujung bukit, di sana Tuhan mengadu..!
...hilang
demi waktu yang menyisir di antara kult tubuhmu yang molek, melingkar
syahwat di benakku yang mulai menghitam. Duhai kau sang pemilik waktu,
sudahi cumbu rayu dalam remang rembulan. Lihatlah...Tuhan bersedih
lagi..!
...melihat
senyummu di antara percikan kabut, melepas sederet luka yang masih
nyeri. Ketika Tuhan cemburu pada yang merindu di setiap dentingan waktu.
Bersenandung kesunyian melambai di balik pelangi yang kusam, tiada
habis saat untuk bicara.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar