Rabu, 12 Juni 2013

Sang Kala

...senja sudah setengah ke peraduan, terlihat mata bidadari yang redup dalam kantuk. Menari Sang Jalang memeluk takdir, nyaris tak akan terlepas, meskipun Tuhan marah pada sang kupu-kupu. Hari ini aku akan mengenal Tuhan dalam bimbangku..!
...seribu luka yang nyeri di dalam hatimu, meneteskan harapan tersaput usapan angin senja. Genit tersenyum Tuhan di perapian malam, di antara desahan yang menyayat. Esok aku akan menangis dalam surat yang tertulis rapi dalam ikatan gaun para pencari Tuhan yang hilang..!
...terakhir hanya kata yang nanar, kau ucapkan dengan amarah. Kau balikkan badan dan tersenyum getir sambil memegang kepalan tangan sendiri. Malam ini kunanti jawabmu di lubuk malam yang semakin ragu dengan lolongan di ujung bukit, di sana Tuhan mengadu..!
...hilang demi waktu yang menyisir di antara kult tubuhmu yang molek, melingkar syahwat di benakku yang mulai menghitam. Duhai kau sang pemilik waktu, sudahi cumbu rayu dalam remang rembulan. Lihatlah...Tuhan bersedih lagi..!
...melihat senyummu di antara percikan kabut, melepas sederet luka yang masih nyeri. Ketika Tuhan cemburu pada yang merindu di setiap dentingan waktu. Bersenandung kesunyian melambai di balik pelangi yang kusam, tiada habis saat untuk bicara.